Islamjakarta.com – Senin, 9 Maret 2026, komunitas dakwah digital Viraloka menyelenggarakan kegiatan halaqah dan buka bersama yang dihadiri para kiai, asatidz, serta pegiat dakwah. Kegiatan ini dimulai pukul 15.00 WIB dengan shalat Ashar berjamaah, bertempat di Ma’had Aly Zawiyah Jakarta, Jl. Budi Harapan No. 40, RT.7/RW.10, Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur.
Acara ini merupakan bagian dari kolaborasi Viraloka, Pesantren Taqrib.com dengan Ma’had Aly Zawiyah dalam memperkuat peran dakwah pesantren di era digital.
Kegiatan tersebut menjadi forum silaturahim sekaligus ruang diskusi bagi para ulama untuk membahas tantangan dakwah di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial.
Ketua RMI NU DKI Jakarta, KH. Rakhmad Zailani Kiki, menyampaikan bahwa kehadiran para ulama dalam ruang digital saat ini menjadi sangat penting untuk menjaga arah generasi muda.
Menurutnya, perkembangan gadget dan media sosial tidak bisa lagi dilawan. Yang dapat dilakukan adalah mengarahkan dan mengisinya dengan konten-konten yang bermanfaat, terutama kajian keislaman dan pengajian turats.
Ia menjelaskan bahwa media sosial saat ini bekerja dengan sistem algoritma yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pengguna. Konten yang sering ditonton akan menentukan jenis konten apa yang terus muncul di beranda pengguna.
“Sekarang orang bisa dikenali dari apa yang muncul di FYP media sosialnya. Kalau yang muncul hanya hiburan yang kurang mendidik, maka itu yang akan terus muncul. Karena itu kita perlu mengisi algoritma tersebut dengan kajian-kajian turats dan dakwah yang baik,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa media sosial pada dasarnya bersifat netral. Baik atau buruknya sangat bergantung pada siapa yang mengisinya.
“Media itu netral. Kalau diisi hal-hal yang merusak, maka yang tersebar kerusakan. Tapi kalau diisi dengan ilmu dan dakwah, maka yang tersebar adalah kebaikan,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Viraloka mengajak para ulama dan pesantren untuk mulai aktif menghadirkan konten-konten pengajian di ruang digital sehingga masyarakat, khususnya generasi muda, dapat lebih mudah mengakses kajian keislaman.
Sementara itu, Direktur Viraloka, Mohammad Bakir, menjelaskan bahwa gerakan dakwah digital yang diinisiasi oleh Viraloka bertujuan untuk membantu para ulama menyebarkan ilmu secara lebih luas melalui media sosial tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren.
Ia menekankan bahwa di tengah kemudahan akses informasi saat ini, para santri dan penuntut ilmu tetap harus menjadikan ulama sebagai rujukan utama.
“Belajar boleh melalui teknologi, tetapi jangan sampai meninggalkan guru. Jangan sampai para santri lebih sering bertanya kepada Google daripada kepada ulama. Karena keberkahan ilmu itu ada pada guru dan pada sanad keilmuan,” ungkapnya.
Menurutnya, Viraloka ingin menghadirkan ruang digital yang dipenuhi dengan kajian kitab, nasihat ulama, serta konten-konten dakwah yang menyejukkan. Dengan demikian, algoritma media sosial yang beredar di masyarakat dapat lebih banyak menampilkan konten-konten yang membawa kebaikan.
Sementara itu, ia menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari program besar revitalisasi khazanah Islam, termasuk digitalisasi manuskrip karya ulama Nusantara.
Ia berharap semakin banyak ulama dan pesantren yang bersedia didokumentasikan kajiannya dan disebarkan melalui media digital sehingga dakwah Islam dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan halaqah kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama, yang menjadi momentum mempererat ukhuwah antara para ulama, asatidz, serta pegiat dakwah yang hadir dalam acara tersebut.
Author: Wiwit Musaadah















